Selesai sholat Ied, pantaskah aku diacuhkan saja?

Holaaa Hallooo!! Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriyah ! 
Enggak telat kan. Mohon maaf lahir batin ya dan terimakasih untuk kamu yang sudah mampir ke blog saya *_* hehe. Kali ini saya akan membahasa mengenai lebaran didaerah saya nih. Ya, Kalimantan Selatan ! Cekidot dahh -->>

Berbicara mengenai makna lebaran, tidak jarang kita artikan sebagai momen yang sakral bagi umat muslim diseluruh dunia. Betapa tidak, lebaran atau idul fitri atau yang dalam bahasa inggrisnya disebut Ied Mubarak ini banyak dimanfaatkan sebagai moment untuk maaf-maafan dan sudah menjadi tradisi umat muslim diseluruh dunia. Setelah 29 hari kita berpuasa di bulan ramadhan, selanjutnya kita akan menemui moment kemenangan ini. Mengapa disebut kemenangan? Banyak orang menganggap kemenangan karena sudah melewati masa dimana banyak sekali larangan terutama larangan makan dan minum yang umumnya disebut puasa, menjaga hawa nafsu, menjaga mulut, hati, pikiran, perbuatan dari hal-hal negatif dan banyak lagi. Idul Fitri memang sangat dinanti-nantikan seluruh umat muslim. Ada yang senang, ada pula yang sedih. Hal itu karena ada yang memberikan respon sedih karena ditinggal oleh bulan peuh rahmat yaitu bulan Ramadhan, ada pula yang senang karena sudah meninggalkan bulan tersebut. 

Di Kalimantan Selatan, masayarakat suku Banjar selalu menyambut hari tersebut dengan berbagai hidangan khas seperti buras, ketupat kandangan, luntung, dan banyak lagi. Masyarakat disini juga sama dengan daerah lain yang selalu menyempatkan mudik kekampung halaman mereka masing-masing. Anak-anak kecil selalu kerumah-rumah untuk meminta THR-an, angpao, zakat dll. Padahal tidak hanya anak kecil saja. Saya pun masih dapat kok yang namanya THR-an, zakat atau apalah itu *fullus wkwk. Banyak juga hidangan wadai (banjar: Kue) dirumah-rumah yang siap menunggu orang yang datang untuk memohon maaf lahir batin ke rumah tetangga atau sanak keluarga. Hmm memang warna-warni ramadhan selalu identik dengan hal itu. Sangat sakral karena haru tangis sering menyelimuti  momen ini saat meminta maaf terutama kepada orangtua.

Namun, ada satu moment yang bukan hanya terjadi di Kalimantan Selatan tapi juga diseluruh Indonesia yang cukup menyedihkan. Hal itu terjadi setelah sholat Ied. Sebelumnya bisa dibayangkan bahwa volume umat muslim di masjid ataupun lapangan pada saat sholat Ied pasti akan penuh bahkan berkali-kali lipat dari hari biasanya. Walaupun berangkat sepagi apapun pasti akan terjadi tumpahan jemaat yang akan sholat hingga ke halaman masjid bahkan sampai ke jalanan. Saat itulah benda yang biasannya dipakai untuk bahan bacaan yaitu koran akan sangat diperlukan selain sajadah atau terpal. Banyak sekali orang yang menjajakan koran bekas kepada para jemaat agar dijadikan sebagai alas sholat. Dari segi lingkungan, itu merupakan hal yang bagus karena mendukung aksi 3R yaitu Reuse. Akan tetapi, hal itu hanya bersikap sementara dan nantinya juga akan dibuang kembali tidak berguna. Lalu, pantaskah kita membuangnya begitu saja? Padahal jasa koran tersebut sangat besar lho. Koran itu rela untuk diinjak-injak demi orang yang membelinya dapat sholat Ied dengan khusyuk dan terhindar dari kotor. So, think again!!

Koran terbuat dari kertas bukan, dan kertas itu dibuat dari pohon. Apabila kita membuangnya tentu sama saja dengan membunuh atau membuang pohon. Kita bernafas memerlukan oksigen dari pohon, dan apabila koran itu kita buang saja berarti produsen oksigen berkurang. Alangkah baiknya apabila kita menyediakan karpet kecil sendiri ataupun kain tambahan untuk alas sholat kita. Bukannya melarang orang untuk jualan koran bekas, tetapi bagaimana dengan perilaku masyarakat yang membiarkannya begitu saja. Syukur-syukur kalau dibuang sesuai tempatnya lha kalau dibuang begitu saja. Pada tempat saya sholat malah koran-koran ibarat debu tak bertuan yang berterbangan kesana-kemari tak tahu arah *plakk hehe. Jadi, marilah kita kurangi volume sampah koran tak berdosa tersebut dengan membawa alas sendiri seperti kain, karpet kecil, plastik dll. Kalaupun harus menggunakan koran, simpan dan buanglah pada tempatnya. Kalau perlu lipat koran tersebut lalu bawa pulang. Kumpulkan dan jual kepada pengepul atau kreasikan menjadi barang kerajinan. Nggak perlu gengsi, menjadi agen lingkungan itu ibarat pahlawan tanpa tanda jasa. Toh, kita  juga dapat pahala. 

Dengan membuang sampah koran seperti itu apakah kita tidak ingat pada bulan ramadhan. Berperilaku bijak kepada lingkungan sekitar itu adalah hikmah dari bulan ramadhan. Apabila kita membuang sampah setelah sholat idul fitri berarti kita tidak bisa mengambil hikmah dari bulan ramadhan yang menuntut kita untuk peduli. Okelah, pada hari itu kita sudah bersih dan meraih kemenangan. Tetapi, bagaimana dengan membuang sampah koran tadi. Apakah yakin sudah bersih inside outside? So, mari kita memaknai hari raya Idul Fitri dengan bersih luar dan dalam. Jangan hanya bersih dalam saja tetapi diluar masih seperti itu. 

Minal Aidzin wal Faidzin sekali lagi ya. Jadikan bahan koreksi saja dan jika perlu disebarkan ilmu kita kepada sesama agar mereka menjadi hamba yang benar di jalan Allah. Muchass Graciassss!!!!
*Inifoto-foto yang saya dapet pas setelah sholat Ied.
 Ini bagus, mereka mengumpulkan pada satu tempat :D
 Subhanallah
 Bismillah
Mari kita berubah menjadi agen perubahan

<------->

Komentar